Latest Photos from Flickr tagged "Helarfest09"

  • Helarfest Bandung 2009 – Mural Project
  • Owl
  • Giraffe and Pegasus
  • Cow
  • Skyscrappers around Trees
  • Cepot
  • Skyscrappers under Sun
  • Puzzle: Finger
  • Chicken Life – Left
  • Giraffe
  • Circle of Life
  • Rabbit inside Box
  • Chicken Life – Right
  • Chicken Life – Middle
  • Two Periods
  • Three Periods
  • Rainbow – Left
  • Black Animals – Snake

About Helarfest

H
elarfest is series of events showcasing the emerging creative culture in Bandung city, West Java - Indonesia. Organized by BCCF, Helarfest 2009 will be held from October to December 2009, with each one of its 70+ events is hosted independently by 30+ creative communities.

Helarfest incorporate various activities and programs that presents a wide selection of creative works in the field of Music, Film, Art, Architecture, Media, Design, Technology, Traditional Culture & Heritage, Environment and many more in local and global scale. The spectacular quantity generated made this festival is the biggest city-wide festival in South East Asia, making Bandung the forefront of emerging creative city in Asia.

» View the BIG Calendar

Pecha Kucha Night #7 Penuh Warna

by Media Relation on November 9, 2009 · 3 comments

in Helarfest09

Museum Konperensi Asia Afrika tampak istimewa Jumat itu (6/11). Museum yang juga bagian dari Gedung Merdeka ini tampak  ramai meski jam menunjukan 18.00.  Di hari biasa, museum ini tutup pukul 15.00 petang.

Sekitar seratusan anak muda Bandung memenuhi ruangan yang luasnya sebesar lapangan basket. Suasana temaram tiba-tiba menjadi riuh ketika dua orang yang kepala hingga pinggulnya ditutup kantong keresek hitam menyeruak dari belakang stage. Sambil memegang megafon dan mereka berjalan melewati massa yang tumplek di ruangan sebesar lapangan basket itu. Sesampainya di depan, salah satu dari mereka membuang sampah dari kantong hitam sementara yang lain memungutnya.

Mereka adalah Abie dan Panda, mahasiswa Desain Produk ITB yang menjadi presenter dalam gelaran Pecha Kucha Night (PKN) volume 7. Selama 400 detik mereka beraksi di depan pengunjung yang duduk lesehan. Mereka mempresentasikan Youth Waste, yakni bagaimana mengolah sampah menjadi barang-barang yang berguna. Tak heran, sepuluh slide mereka berisi foto-foto seputar sampah seperti pemulung, truk sampah, dan tempat pembuangan akhir sampah.

Pecha Kucha   - dalam bahasa Jepang berarti obrolan atau percakapan – adalah ruang publik bagi siapapun untuk saling berbagi hal-hal kreatid dalam bentuk presentasi ide, kegiatan, karya, komunitas, maupun hobi. Pecha Kucha juga bisa menjadi ajang bagi pegiat kreatif untuk bertemu, membentuk jejaring, dan mempublikasikan hal-hal kreatif kepada publik.

Presenter harus mengikut format 20 x 20, artinya, presenter menyajikan 20 slide yang masing-masing berdurasi 20 detik.  Slide secara otomatis akan berpindah ke slide selanjutnya setiap 20 detik. Tantangan bagi presenter adalah bagaimana menyajikan ide secara optimal dan tepat sasaran dalam waktu 400 detik atau enam menit plus 40 detik.

Pecha Kucha digagas oleh dua arsitek asing yang bermukim di Jepang, Astrid Klein dan Mark Dytham. Kegiatan ini pertama kali digelar di Tokyo pada 2003. Saat ini, Pecha Kucha sudah tersebar di 254 Kota di seluruh penjuru dunia. Kota Bandung sendiri adalah kota pertama di Indonesia yang pertama kali menggelar Pecha Kucha.

Gelaran Pecha Kucha malam itu adalah yang ketujuh kalinya sejak pertama kali diadakan pada 8 Agustus 2008. Selain Abie dan Panda, ada 18 presenter dari berbagai kalangan lainnya yang menunjukan ide-ide kreatif mereka. Rizky Adiwilaga, seorang konsultan HAKI cum dosen misalnya, ia mempresentasikan masalah HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual).

Fiki Satari, owner distro Airplane unjuk gigi dengan menampilkan seri dancing smoke, desain pakaian yang terinspirasi dari asap obat nyamuk bakar. Ryan Koesuma juga membeberkan aktivitasnya membangun Death Rock Star, situs jejaring music yang menyediakan informasi tentang music dan user juga bisa mengunduh lagu secara gratis.

Nelly Lolita Daniel, Koordinator Pecha Kucha Bandung mengatakan, Bandung memiliki banyak komunitas kreatif tapi masing-masing dari mereka masih terkotak-kotak. “Lewat Pecha Kucha kita lebur kota-kotak itu,” terangnya sebelum memberikan sambutan acara. Nelly menambahkan, di Pecha Kucha Night, setiap komunitas bisa melihat apa yang dikerjakan komunitas lain. Nelly menambahkan, Pecha Kucha bersifat informal. Setiap presenter bebas presenter bebas dalam menyampaikan ide-idenya selama mengikuti format 20×20.  “Jadi si presenter bisa ngetop dalam satu malam,” tutur direktur LABO Architecture and Design.

***

Antusiasme pengunjung yang kebanyakan anak muda terlihat jelas malam itu. Sebagian yang tidak beruntung terpaksa harus berdiri. Sebagian kecil ada yang berlalu lalang di koridor jalan menuju pintu keluar. Tak jarang, riuh tepuk tangan membuat suasana semakin meriah. Derai tawa juga kadang melesat ke langit-langit gedung yang dibangun tahun 1895 tersebut. Misalnya ketika Abie dan Panda melakukana aksi teatrikal membuang dan memungut sampah, Ridwan Kamil yang menjadi Host malam itu menimpal, “Ya sampah yang terakhir adalah Anggodo dan Anggoro” tak pelak derai tawa pun bergemuruh.

Banyak pula dari pengunjung yang terinspirasi acara ini. Leo (19) mengungkapkan, ia senang sekali melihat Pecha Kucha Night. “Acaranya bagus banget, buat kita anak-anak muda, banyak informasi yang inspiratif”. Mahasiswa Arsitektur Universitas Sebelas Maret Solo ini  menuturkan, ide-ide presenter yang tampil di Pecha Kucha Night volume 7 juga menunjang pengetahuannya di kampus. Leo juga berharap, Pecha  Kucha lebih sering digelar lagi, terutama di kota asalnya, Solo. Ia memang hanya kebetulan datang ke hajatan Pecha Kucha karena ia dan kawan-kawannya sedang study tour di Bandung.

Nelly mengatakan, Pecha Kucha direncanakan akan digelar lagi dua bulan mendatang. Adapun setiap kota yang sudah tergabung dalam Pecha Kucha Internasional – pusatnya di Tokyo – diharuskan mengadakan Pecha Kucha Night paling sedikit empat kali. Sementara Bandung, tahun ini sudah menggelar tujuh kali Pecha Kucha Night dan selalu antusias di setiap gelarannya. (Rivki Priatna)

Related posts

{ 3 comments… read them below or add one }

1 kasih November 9, 2009 at 8:08 am

rivki, gaya lo, udah mulai jadi freelancer yap. Hem gua koreksi tulisan lo ya…nih, konperensi yang bener tuh konfrensi. Gunakan bahasa Indonesia untuk presenter, yaitu pembawa acara. Itu lebih meindonesia. Ok? Gua cocok jadi editor nih

Reply

2 kasih November 9, 2009 at 8:10 am

semangat Ki!

Reply

3 Rivki November 9, 2009 at 8:38 am

@ Kasih, itu gue pake karena di museumnya sendiri tertulis begitu,,hehe,,thanks kritiknya,,:)

Reply

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Previous post: Kolaborasi Unik ala Sunda Underground

Next post: Metal Tapi Nyunda, Kenapa Tidak?