Pada pada Jum’at malam (30/10). Common Room, salah satu simpul kreatifitas anak muda di Bandung menggelar acara musik bertajuk Pagelaran Musik Sunda Underground. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Nu-Substance 2009 yang masih berada dalam payung Helarfest 2009.
Pagelaran Musik Sunda Underground merupakan salah satu hajat komunitas Sunda Underground, setelah sebelumnya mereka sukses menggelar Penca on The Street. Komunitas Sunda Underground adalah salah satu pegiat kreatif di Bandung yang berusaha membangun kembali semangat kasundaan di kalangan anak muda.
Menurut Dadang Hermawan (36), nama Sunda Underground lahir karena sebagian besar pegiat komunitas tersebut berasal dari kelompok musik Underground. Pergerakan mereka yang dibawah tanah dimaksudkan agar tidak bersinggungan dunia politik.
Dengan mengusung misi ini, acara yang menampilkan sembilan kelompok musik tersebut bertujuan untuk mengajak muda Bandung untuk lebih peduli pada tradisi kasundaan. Acara sempat mundur sampai 4,5 jam dari jadwal awal. Meski demikian, suguhan Sunda Underground cukup berhasil memberikan pengalaman baru kepada pengunjung dalam menikmati sajian kolaborasi musik modern dan kesenian Sunda.
Penonton yang datang malam itu cukup beruntung, karena Mbah Olot salah satu tokoh kesenian Sunda yang melahirkan kembali alat musik kerinding ikut tampil dengan kelompok seni Giri Karenceng yang dipimpinnya.
Penampilan Giri Kerenceng terlihat sangat diminati penonton. Banyak yang berteriak mengikuti nada, dan bahkan ikut bernyanyi. Beberapa pengunjung juga berdiri dan menari mengikuti irama kendang dan karinding.
Kolaborasi antara dua dunia berbeda terlihat saat penampilan grup musik Trah. Alunan musik elektronik bercampur dengan musik traditional Sunda mulai mengalir. Tiba–tiba suasana ruangan menjadi hening dan semua pandangan tertuju pada seorang sinden yang bernyanyi.
Usai penampilan Trah, alat musik Karinding menjadi fokus penampilan berikutnya. Tiga orang pria memainkan alat musik karinding yang boleh jadi hampir punah ini dengan apik. Utun menjadi salah satu personil kelompok musik tersebut.
Jam menunjukkan pukul 20:27 WIB dan penampilan terakhir datang dari Tcukimay, salah satu grup musik Punk yang sudah dikenal di lanskap musik lokal. Membawakan empat lagu, penampilan mereka menjadi yang paling atraktif malam itu. Menggabungkan musik punk dan musik tradisional Sunda, mereka berhasil membawa penonton untuk berdiri dan ikut bernyanyi. Pagelaran tersebut selesai , sesuai jadwal tepat jam 21.00.
Anak Muda Bandung Terlalu Modern
Pagelaran musik Sunda Underground malam itu memberikan banyak kesan positif. Aisha Ria Ginanti (21) Mahasiswa Unpad, yang menikmati pagelaran malam itu menilai kolaborasi musik seperti ini memang sangat menarik dan bisa diterima oleh anak muda sekarang. “Seperti Tcukimay, mereka sudah punya penggemar sendiri yang pada akhirnya mampu mempengaruhi pola pikir mereka.” Ujarnya.
Direktur Pengelola Common Room, Gustaff Harriman Iskandar, juga berpendapat senada. Menurutnya, kalangan muda saat relative lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dan dalam mengeksplorasi beragam musik baru. Gustaff menolak anggapan bahawa seni tradisional dan modern adalah dua ekspresi yang berjauhan. Karena menurutnya seni tetaplah seni.
Sedangkan Lookas (28) vokalis Tcukimay, berpandangan bahwa kegiatan seperti ini memang harus lebih banyak digelar jika ingin berkembang. Walaupun ia sendiri masih belum percaya, dua ekspresi musik dari dunia berbeda yang terlihat berjauhan dapat disatukan ke dalam harmoni yang sangat indah. (Fitri Mutyara Sungkar)


















{ 1 comment… read it below or add one }
Saya dapet info dari Kimung, Sunda underground katanya lagi rekaman komplilasi,,hehe,,diantos kims rilisanna…