Latest Photos from Flickr tagged "Helarfest09"

  • Helarfest Bandung 2009 – Mural Project
  • Cow
  • Owl
  • Giraffe and Pegasus
  • Skyscrappers under Sun
  • Cepot
  • Skyscrappers around Trees
  • Puzzle: Lion
  • Puzzle: Finger
  • Rabbit inside Box
  • Chicken Life – Left
  • Giraffe
  • Circle of Life
  • Chicken Life – Middle
  • Chicken Life – Right
  • Two Periods
  • Three Periods
  • Rainbow – Left

About Helarfest

H
elarfest is series of events showcasing the emerging creative culture in Bandung city, West Java - Indonesia. Organized by BCCF, Helarfest 2009 will be held from October to December 2009, with each one of its 70+ events is hosted independently by 30+ creative communities.

Helarfest incorporate various activities and programs that presents a wide selection of creative works in the field of Music, Film, Art, Architecture, Media, Design, Technology, Traditional Culture & Heritage, Environment and many more in local and global scale. The spectacular quantity generated made this festival is the biggest city-wide festival in South East Asia, making Bandung the forefront of emerging creative city in Asia.

» View the BIG Calendar

Kolaborasi Unik ala Sunda Underground

by Media Relation on November 9, 2009 · 1 comment

in Helarfest09

Pada pada Jum’at malam (30/10). Common Room, salah satu simpul kreatifitas anak muda di Bandung menggelar acara musik bertajuk Pagelaran Musik Sunda Underground. Kegiatan ini merupakan rangkaian acara Nu-Substance 2009 yang masih berada dalam payung Helarfest 2009.

Pagelaran Musik Sunda Underground merupakan salah satu hajat komunitas Sunda Underground,  setelah sebelumnya mereka sukses menggelar Penca on The Street. Komunitas Sunda Underground adalah salah satu pegiat kreatif di Bandung yang berusaha membangun kembali semangat kasundaan di kalangan anak muda.

Menurut Dadang Hermawan (36), nama Sunda Underground lahir karena sebagian besar pegiat komunitas tersebut berasal dari kelompok musik Underground. Pergerakan mereka yang dibawah tanah dimaksudkan  agar tidak bersinggungan dunia politik.

Dengan mengusung misi ini, acara yang menampilkan sembilan kelompok musik tersebut bertujuan untuk mengajak muda Bandung untuk lebih peduli pada tradisi kasundaan. Acara sempat mundur sampai 4,5 jam dari jadwal awal. Meski demikian,  suguhan Sunda Underground cukup berhasil memberikan pengalaman baru kepada pengunjung dalam menikmati sajian kolaborasi musik modern dan kesenian Sunda.

Penonton yang datang malam itu cukup beruntung, karena Mbah Olot salah satu tokoh kesenian Sunda yang melahirkan kembali alat musik kerinding ikut tampil dengan kelompok seni Giri Karenceng  yang dipimpinnya.

Penampilan Giri Kerenceng terlihat sangat diminati penonton. Banyak yang berteriak mengikuti nada, dan bahkan ikut bernyanyi. Beberapa pengunjung juga berdiri dan menari mengikuti irama kendang dan karinding.

Kolaborasi antara dua dunia berbeda terlihat saat penampilan grup musik Trah. Alunan musik elektronik bercampur dengan musik traditional Sunda mulai mengalir.  Tiba–tiba suasana ruangan menjadi hening dan semua pandangan tertuju pada seorang sinden yang bernyanyi.

Usai penampilan Trah, alat musik Karinding menjadi fokus penampilan berikutnya. Tiga orang pria memainkan alat musik karinding yang boleh jadi hampir punah ini dengan apik. Utun menjadi salah satu personil kelompok musik tersebut.

Jam menunjukkan pukul 20:27 WIB dan penampilan terakhir datang dari Tcukimay, salah satu grup musik Punk yang sudah dikenal di lanskap musik lokal. Membawakan empat lagu, penampilan mereka menjadi yang paling  atraktif malam itu. Menggabungkan musik punk dan musik tradisional Sunda, mereka berhasil membawa penonton untuk berdiri dan ikut bernyanyi. Pagelaran tersebut selesai , sesuai jadwal tepat jam 21.00.

Anak Muda Bandung Terlalu Modern

Pagelaran musik Sunda Underground malam itu memberikan banyak kesan positif. Aisha Ria Ginanti (21) Mahasiswa Unpad, yang menikmati pagelaran malam itu menilai  kolaborasi musik seperti ini memang sangat menarik dan bisa diterima oleh anak muda sekarang. “Seperti Tcukimay, mereka sudah punya penggemar sendiri yang pada akhirnya mampu mempengaruhi pola pikir mereka.” Ujarnya.

Direktur Pengelola Common Room, Gustaff Harriman Iskandar, juga berpendapat senada. Menurutnya, kalangan muda saat relative lebih terbuka terhadap segala kemungkinan dan dalam mengeksplorasi beragam musik baru. Gustaff menolak anggapan bahawa seni tradisional dan modern adalah dua ekspresi yang berjauhan. Karena menurutnya seni tetaplah seni.

Sedangkan Lookas (28) vokalis Tcukimay, berpandangan bahwa kegiatan seperti ini memang harus lebih banyak digelar jika ingin berkembang. Walaupun ia sendiri masih belum percaya, dua ekspresi musik dari dunia berbeda yang terlihat berjauhan dapat disatukan ke dalam harmoni yang sangat indah. (Fitri Mutyara Sungkar)

Related posts

{ 1 comment… read it below or add one }

1 Rivki November 9, 2009 at 8:44 am

Saya dapet info dari Kimung, Sunda underground katanya lagi rekaman komplilasi,,hehe,,diantos kims rilisanna…

Reply

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Previous post: Pesan Untuk Perubahan Lewat Foto

Next post: Pecha Kucha Night #7 Penuh Warna