Latest Photos from Flickr tagged "Helarfest09"

  • Helarfest Bandung 2009 – Mural Project
  • Cow
  • Owl
  • Giraffe and Pegasus
  • Skyscrappers under Sun
  • Cepot
  • Skyscrappers around Trees
  • Puzzle: Lion
  • Puzzle: Finger
  • Rabbit inside Box
  • Chicken Life – Left
  • Giraffe
  • Circle of Life
  • Chicken Life – Middle
  • Chicken Life – Right
  • Two Periods
  • Three Periods
  • Rainbow – Left

About Helarfest

H
elarfest is series of events showcasing the emerging creative culture in Bandung city, West Java - Indonesia. Organized by BCCF, Helarfest 2009 will be held from October to December 2009, with each one of its 70+ events is hosted independently by 30+ creative communities.

Helarfest incorporate various activities and programs that presents a wide selection of creative works in the field of Music, Film, Art, Architecture, Media, Design, Technology, Traditional Culture & Heritage, Environment and many more in local and global scale. The spectacular quantity generated made this festival is the biggest city-wide festival in South East Asia, making Bandung the forefront of emerging creative city in Asia.

» View the BIG Calendar

Ben dan Hanafi, Kampanye Lewat Oblong

by Media Relation on December 15, 2009 · 0 comments

in Helarfest09, Press Archive

cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/15/11025983/ben.dan.hanafi.kampanye.lewat.oblong

Selasa, 15 Desember 2009 | 11:02 WIB

Bandung pisan! (banget). Demikian tagline besar yang dibawa di dalam desain-desain kaus rancangan Ben Wirawan Sumardji (33) dan Hanafi Salman (33). Mereka menjadikan oblong sebagai sebuah media kampanye sosial dan budaya kota. Kaus bukan hanya sebagai alat fashion, melainkan juga ensiklopedia sejarah, landmark, aksen, wisata, dan berbagai seluk-beluk tentang Kota Bandung dan warganya. Yulvianus Harjono dan Cornelius Helmy

Sejak berdiri akhir 2004, Mahanagari menghasilkan setidaknya 60 desain kaus unik, menggelitik, dan kadang disertai kritik sosial.

Kaus dengan tulisan: F>V>P adalah salah satu yang sangat digemari dan banyak dicari pembeli. Teks ini akan mengingatkan kita pada karakteristik urang Bandung dan umumnya Sunda asli yang sering kali kesulitan melafalkan konsonan F, V, dan P saat bertutur kata.

Bandung itu berbeda dengan kota besar lainnya macam Yogyakarta dan Bali. Kota ini mengalami percampuran budaya demikian besar. Jika tidak mulai diperkenalkan, budaya lama akan hilang, tersubstitusi kultur-kultur baru yang muncul, ujar Ben, Direktur CV Mahanagari Nusantara, perusahaan pemilik merek Mahanagari yang melahirkan oblong-oblong rasa Bandung pisan itu.

Ia percaya, kaus bisa menjadi media berkampanye sosial dan budaya. Kuncinya pada keunggulan desain. Berbeda dengan merek lain yang sekadar menjual nama Bandung ataupun ikon kasatmata, Mahanagari senantiasa menyisipkan pesan di setiap desain kaus buatannya.

Salah satunya, desain Menara Eiffel terbalik. Bandung yang dulu katanya indah, dijuluki Parijs van Java, sekarang ini kan sudah berubah. Kota ini punya banyak persoalan baru, tutur alumnus Desain Produk Institut Teknologi Bandung yang akrab disapa Benben ini. Dia membalikkan ibu jarinya dari atas ke bawah, menjelaskan makna Menara Eiffel terbalik di kaus itu.

Brand Mahanagari ini diciptakan kala krisis moneter melanda Tanah Air pada pengujung tahun 1998. Berbeda dengan anak muda kreatif lainnya yang ketika itu ramai mendirikan industri clothing di distro, Ben justru melawan arus dengan memproduksi kaus berdesain Bandung dan kekhasannya.

Ketika tahun 1998 ikut pertukaran pelajar ke National University of Singapore (NUS), saya bingung harus memberi suvenir khas apa dari Bandung, selain makanan pada saat hari tukar kado. Kaus yang menampilkan kekhasan kota hanya ada di Bali dan Yogya, kenang Benben.

Menggandeng rekannya, Hanafi, yang jago mendesain kaus, Benben memilih meninggalkan pekerjaan desainer di sebuah perusahaan perlengkapan alam bebas. Dia merintis usaha sendiri dengan modal awal dari pinjaman senilai Rp 5 juta. Ketika itu baru lima desain sederhana yang diciptakan. Jualan dilakukan dengan sistem titip di toko-toko di kawasan Jalan Braga dan Setiabudhi.

Pasar utamanya saat itu adalah para turis asing dan ekspatriat. Pada awalnya Ben dan Hanafi pun rela berjualan langsung di kereta api eksekutif Bandung-Jakarta. Pascaperistiwa bom Bali I, Oktober 2002, usaha mereka sempat merugi. Itu karena Bandung sepi turis asing.

Tur wisata budaya

Sempat berhenti berproduksi dua setengah tahun, dengan suntikan modal mertuanya, Ben menghidupkan kembali Mahanagari. Terobosan baru dalam dunia clothing pun dimunculkan.

Mahanagari, menurut Hanafi, membeli desain-desain dari pihak luar, kebanyakan mahasiswa Seni Rupa dan Desain Produk ITB. Desain itu dihargai senilai Rp 200.000 dan royalti yang bisa mencapai Rp 2 juta. Konsep ini adalah sebuah bentuk keuntungan simbiosis dalam upaya ikut membesarkan almamater mereka.

Dalam perkembangannya, bidang-bidang usaha Mahanagari pun kemudian diperluas, yaitu juga mencakup kegiatan tur wisata budaya, ekologi, dan sejarah macam Lavatourm, yaitu tur menyusuri jejak geologi kawasan Bandung Purba serta tur melihat bangunan bersejarah di Bandung Ini merupakan bagian dari upaya kampanye seutuhnya tentang budaya dan segala potensi Bandung, ujar Benben.

Mahanagari ingin tidak dikenal sebatas penjual kaus, tetapi sebagai perusahaan peduli pada lingkungan dan sosial Kota Bandung. Belakangan saya baru tahu hal itu kini disebut social entrepreneur , kata penerima penghargaan Gubernur Jawa Barat untuk Perusahaan Kreatif Prospektif tahun 2007 dan 2008 ini.

Kampanye itu antara lain perjalanan ke Pasir Pawon, tempat ditemukannya manusia purba di kawasan Karst Padalarang. Selain itu, perjalanan ke sumber air Bandung Selatan dan wisata sejarah Pangalengan. Pesertanya masyarakat umum yang berminat terhadap sejarah dan peduli terhadap berbagai hal aktual tentang Bandung.

Ramah lingkungan

Tidak hanya kaus oblong, Mahanagari kemudian menciptakan desain unik, yaitu paper folder (tempat menyimpan kertas) pengganti plastik keresek. Kemasan produk ini menjadi simpul jaringan kampanye antara Mahanagari dan organisasi kemasyarakatan lainnya.

Inovasi pun dilakukan dengan komponen utama dari kardus. Kardus dipilih karena praktis, murah, dapat digunakan lagi, dan bisa didaur ulang. Atas desain kemasan yang bernuansa ramah lingkungan ini, Mahanagari mendapatkan penghargaan Gold Award Desain Terbaik Indonesia tahun 2008 kategori T-Shirt Packaging Indonesia Good Design Selection yang diserahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Juri menilai gambar dan desain bukan sekadar alat pemanis jualan, melainkan bisa dipakai untuk kepentingan dan kepedulian sosial, katanya.

Strategi ini ternyata diterima masyarakat Bandung. Beragam desain laku dijual di pasaran. Hal itu dipengaruhi juga oleh besarnya minat masyarakat ikut dalam kampanye Mahanagari ke berbagai daerah bersejarah dan khas Kota Bandung.

Untuk tahun 2010, Ben berencana membawa Mahanagari terbang lebih tinggi. Ia menyebut rencana itu dengan istilah menjual otak. Menurut Ben, menjual otak diartikan dengan lebih banyak berkreasi dan berinovasi lewat karya dengan harapan bisa dilirik para pemegang modal, seperti perusahaan swasta.

Apabila sinergis dengan pemegang modal bisa tercapai, diharapkan bisa dapat modal lebih besar guna mengembangkan Mahanagari sebagai perusahaan kampanye sejarah dan pendidikan yang lebih besar, ujar Ben.

BEN WIRAWAN SUMARDJI

• Lahir: Samarinda, 8 Mei 1976 • Istri: Fanny Indrafanti • Anak: Samudera Faris Aziz • Pendidikan: – SMAN 6 Jakarta – Desain Produk ITB

HANAFI SALMAN

• Lahir: Bukittinggi, 14 Februari 1976 • Istri: Hilda Purnamasari • Anak: Maliki Qalbun Salim

PENGHARGAAN MAHANAGARI:

- Desain Produk Prospektif Tahun 2007 dari Dinas Perdagangan Provinsi Jawa Barat – Desain Terbaik Jawa Barat Tahun 2008 – Gold Award Desain Terbaik Indonesia kategori T-Shirt Packaging Indonesia Good Design Selection Tahun 2008

Related posts

Leave a Comment

You can use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Previous post: Karnaval Akhiri Helarfest 2009

Next post: Kreativitas Warga, Hidup Kota