cetak.kompas.com/read/xml/2009/12/14/03422452/api.kreativitas.itu.tak.ingin.mati
Helarfest 2009, ajang mempertontonkan dan parade karya kreatif warga Kota Bandung, sudah berakhir. Penutupan Cikapundung Festival—yang berlangsung 17 Oktober hingga 13 Desember—itu dilambangkan dengan ribuan kapal kertas yang dihanyutkan di sungai yang membelah Kota Bandung, Cikapundung. Tak pernah menyerah, terus berlayar.
Ketua Bandung Creative City Forum Ridwan Kamil, salah seorang penggagas Helarfest, mengatakan, tidak kenal menyerah merupakan ciri khas komunitas kreatif di Bandung. Berkali-kali mereka gagal, berulang kali juga mereka bangun. Hasilnya, 57 kegiatan kreatif digelar dalam Helarfest kali ini.
Kegiatan itu, antara lain, berupa penjualan baju (clothing) terbesar di Indonesia bernama Kickfest, Kala Bandung Mahanagari yang memamerkan display Bandung tahun 1600-1940, Peringatan Tahun Sunda, World Jazz, serta ajang keterampilan anak Pica Picu, di samping beragam pelatihan tentang lingkungan hijau berbasis masyarakat urban kota.
”Helarfest ingin berperan sebagai jembatan antara pelaku industri kreatif dan masyarakat. Masyarakat yang dimaksud adalah warga biasa, peneliti (di) universitas, pemerintah, hingga pemegang modal swasta,” kata Ridwan.
Tidak pernah menyerah pernah dilakukan Mahanagari, perusahaan kaus khas Bandung, yang kini omzetnya Rp 1 miliar per tahun. Delapan tahun lalu, Direktur Mahanagari Ben Wirawan nyaris putus asa. Usaha jual beli kaus yang telah dirintisnya setahun hancur akibat meledaknya bom di Bali tahun 2002.
”Turis asing memilih meninggalkan atau tidak berkunjung ke Indonesia. Bisnis lesu karena mereka adalah konsumen utama,” kata Ben.
Konsep utama kaus Mahanagari adalah mengusung tema desain segala sesuatu tentang Bandung dan Jawa Barat. Baik itu dilihat dari tema lingkungan, arsitektur, hingga sosial budaya. Mahanagari tidak sekadar berjualan kaus, tetapi ingin berperan sebagai agen pendidikan masyarakat.
Beberapa desainnya antara lain semrawutnya angkutan di Kota Bandung, Situs Purbakala Pasir Pawon di Kabupaten Barat, serta bangunan tua di Jalan Braga, Bandung.
Butuh dua tahun bagi Mahanagari untuk berdiri lagi setelah bom Bali. Saat itu, datang tawaran dana dari seorang teman menghidupkan lagi Mahanagari. Dengan berganti fokus pada pasar lokal, omzet pun melonjak tinggi.
”Di luar dugaan, ternyata pasar lokal sangat meminati. Omzet per tahun kini Rp 1 miliar. Pekerjaan desain dibantu 40 kontributor,” kata Ben.
Bukan hanya pelakunya, Helarfest juga pernah mengalami cobaan. Direktur Program Bandung Creative City Forum Fiki Chikara Satari mengatakan tidak kapok menyelenggarakan Helarfest 2009 meski merugi ratusan juta rupiah setahun lalu pada ajang serupa. Penyebabnya, antara lain, belum terlatihnya pengelolaan bisnis dan minim koordinasi antarpeserta.
Helarfest tahun ini diklaim tidak merugi. ”Tetapi, yang paling penting, minat masyarakat Bandung meramaikan acara ini cukup tinggi,” kata Fiki.
Pada tahun 2008, lanjutnya, jumlah peserta Helarfest hanya 15 komunitas dengan 31 acara. Tahun ini, pesertanya melonjak menjadi 32 komunitas dengan 57 acara. ”Rencana Helarfest tahun 2010, kami targetkan diikuti 200 peserta. Hal itu kami gagas karena bertepatan dengan Ulang Tahun Ke-200 Kota Bandung,” ujar Fiki. (CHE)


















{ 1 comment… read it below or add one }
perahu-perahu yang dihanyutkan itu di ambil lagi nggak….kalo nggak diambil lagi….artinya buang sampah sembarangan secara terang-terangan….dan dibanggakan lagi……..
mudah2an tidak seperti itu…..