About Helar Festival 2008

helar.festival.2008.bdg aims to cultivate the emerging practice in contemporary creative culture both in local and global context.
Being rise within the mediated global and local environments, helar.festival.2008.bdg incorporate various activities and programs that are presenting a wide selection of creative work in the field of music, film, art, architecture, media, design, public art, traditional culture & heritage.
It engages the local creative scene with global audience to challenges the common notion on contemporary culture and its creative practice today. More...

Monthly Archive for September, 2008

‘Hidup Adalah Udunan’ - Sekelumit duka Helarfest 2008

*M. Ridwan Kamil

[1] Kekhawatiran di Sabtu mendung itu akhirnya terjadi juga. Jam 5 sore acara konser musik Bandung Youth Park Fest dihentikan polisi. Alasannya tidak jelas. Seluruh panitia bingung dan panik, terutama sang ketua panitia, Edi Brokoli. Bagaimana tidak, belasan ribu penonton yang datang di lapangan Saparua masih berjubel dan bersemangat, berharap aksi panggung terus berlanjut hingga larut malam. Namun harapan mereka pupus sudah, karena polisi bersikukuh.

Panitia dengan keberanian seadanya langsung bergerak menggiring kerumunan massa untuk bubar. Di tengah keriuhan mengamankan itu seorang panitia, Fian, menjadi korban. Ia terjatuh dari pagar pengaman dengan kepala dibawah. Kakinya cedera dan satu telinganya tidak bisa mendengar. Diluar dugaan, belasan ribu remaja tanggung itu bubar dengan tertib. Tidak ada kerusuhan.

Acara konser 40-an band yang direncanakan untuk menutup Helarfest, festival terbesar kreativitas anak muda Bandung, menjadi anti klimaks. Harapan menjadikan hari itu menjadi momen kebangkitan kreativitas musik underground di Bandung pupus sudah. Ada yang merampoknya.

Selidik punya selidik, ternyata sore itu ada orang teramat penting sedang melawat ke kota kembang untuk acara perhelatan perkawinan. Prosedur pengamanan memaksa polisi untuk menghalau kerumunan dalam radius tertentu dari jalur rombongan Presiden Republik ini. Ya betul, karena SBY lewat untuk resepsi, maka acara kreativitas yang disiapkan berbulan-bulan dibubarkan paksa.

Kini Edi dan sahabat-sahabatnya harus menanggung rugi moril materil. Padahal acara yang tidak bersponsor ini didanai dari hasil pinjaman dan saweran (bahasa Sunda = udunan) para pekerja kreatif Bandung. Ada pinjaman uang pribadi dan orang tua. Ada sisihan uang nonton dan pacaran. Ada pinjaman tanpa bunga dari kas beragam perusahaan kreatif. Bahkan, ada yang rela melego motor Harley Davidson kesayangannya untuk dijadikan agunan. Bubarnya acara sebelum waktunya ini mengakibatkan panitia dililit hutang beberapa ratus juta rupiah yang tidak semestinya.

Prosedur paranoid keamanan di negeri keruh ini ternyata telah merampok energi kreativitas dan memutus keriangan ribuan hati. Menyakitkan dan mengiris hati.

***

[2] Saweran dalam bentuk urun rembuk ide, waktu dan uang adalah semangat ‘survival’ para pekerja kreatif di Tatar Parayangan ini. Komunitas musik cadas di Bandung yang menyelenggarakan konser Death Fest 3 yang diemohi sponsor adalah contohnya. Tidak ada bantuan pemerintah dan sponsor, masyarakat umum pun bergerak membantu. Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur di Garut, ikhlas menyisihkan keuntungan jualan berasnya untuk konser kreatif ini. “Ini buat bantu-bantu biaya sound system,” ujarnya. Di minggu yang sama, komunitas Arsitektur juga menunjukan solidaritasnya dengan menyisihkan sebagian uang sponsor seminar arsitektur untuk membantu komunitas Death Metal yang jumlahnya 30-an ini (melebihi Jepang atau Amerika yang hanya belasan).

Acara-acara kreatif anak muda Bandung dalam payung Helarfest yang berjumlah 31 acara ini umumnya dilaksanakan dengan modal seadanya. Namun kebersamaan alhamdulillah mengalahkan keputusasaan. Bantuan dana dari pemerintah yang diharapkan hadir ternyata hampir semuanya meleset. Dana bantuan resmi dari Pemerintah Kota Bandung ternyata baru akan diusahakan cair bulan Oktober depan. Janji Gubernur Jawa Barat yang baru pun, ternyata nol besar. “Kasnya kosong,” kilah bendaharanya. Satu-satunya bantuan datang dari Menteri Mari Pangestu, itu pun baru dibayarkan setengahnya dan datang di saat acara Helarfest sudah selesai.

Namun kesuksesan hidup harus dimulai dari kegigihan, bukan dengan keluhan. Dengan segala kekurangannya, Helarfest berhasil menorehkan psikologis positif bagi masyarakat kota Bandung. Dibalik berita-berita negatif tentang Bandung (macet, sampah, kualitas lingkungan), isu kreativitas dan Helarfest ternyata menjadi satu-satunya berita baik (kompas, sabtu 4/9).

Minggu ini adalah minggu-minggu Edi Brokoli dan para sahabatnya di Bandung Creative City Forum (BCCF) bekerja keras untuk mengembalikan hutang dan pinjaman yang cukup besar. Jika anda punya ide kreatif untuk membantu Edi Brokoli silakan kontak di 0817832346. Karena hidup adalah kebersamaan.

Tulisan ini didedikasikan untuk puluhan Pak Yusep, pedagang beras di pasar Guntur juga untuk belasan Fian yang berkorban untuk sebuah mimpi bersama. Juga untuk api semangat generasi muda Bandung yang tidak boleh padam dan kreativitas yang tidak boleh mati.

Hidup adalah udunan.

***
* M. Ridwan Kamil, Arsitek, Dosen ITB dan Ketua Bandung Creative City Forum.

Related posts

Pengumuman Pemenang Bandung Youth Park Concept & Design Competition

Dengan ini kami selaku co-op comitee BYPF menginformasikan pemenang Kompetisi Konsep dan Design: Revitalisasi Taman Saparua, yang termasuk dalam rangkaian acara Bandung Youth Park Festival @ Helarfest 2008.

Perlu diketahui sebelumnya bahwa jadwal tahap pengerjaan kompetisi ini resmi dimulai pada tanggal 11 Agustus 2008, hingga sampai pada pengumpulan akhir karya pada tanggal 27 Agustus 2008.

Dengan berdasar pada TOR yang telah dipaparkan sebelumnya, dan mengacu pada penilaian dan kesepakatan final juri yang terdiri dari Moch. Ridwan Kamil (URBANE), Achmad Tardiyana (URBANE) dan UNKL Dendy (UNKL 347), urutan pemenang sayembara adalah sebagai berikut:

Pemenang 1
Team Erlangga dan Putrikinasih - Reviving Saparua

Statement Juri
Karya ini sebenarnya cenderung tidak banyak menggubah eksisting Taman Saparua, namun secara tepat berhasil menjawab pertanyaan dengan menganalisis problematika Saparua dengan aktual dan kemudian melakukan penyikapan desain yang sesuai porsi, efektif dan praktis (kemungkinan terbangun tinggi).

Seperti pada penyikapan lapangan sepak bola yang dibiarkan tetap seperti semula dengan luasan dan fisik yang sama, namun mendapat penyikapan mendasar dengan menghijaukan lahannya. Keberadaan lapang ini dinilai krusial karena dapat menjadi area yang fleksibel untuk berbagai kegiatan masyarakat. Fleksibilitas ini menjadi penting mengingat begitu dinamisnya intervensi manusia dalam ber-kegiatan di sebuah taman.

Kemudian bersebelahan dengan lapang sepak bola, karya ini menjadi menarik dengan penyikapan areal lapang basket GOR dengan konsep broadwalknya yang unik. Koridor pedestrian ini dinilai fleksibel dan dinamis terhadap berbagai fungsi kegiatan, tanggap intervensi, dan memiliki sense ruang yang menarik. Walaupun sedikit datar (kurang bermain) secara bentuk, ruang linier ini dapat menjadi fokal point dari taman ini. Satu pengalaman ruang urban menarik akan terjadi lewat koridor sirkulasi ini.

Desain ini akan menjadi lebih menarik ketika seharusnya massa bangunan pada koridor memiliki fisik yang tersambung dengan massa concert hall, sehingga tidak terlalu fragmental. Seharusnya massa bangunan memiliki datum akan kesan llinier yang sebelumnya telah dibentuk oleh koridor broadwalk, sehingga lebih sinkron.

Morfologi massa walaupun kurang menarik secara bentuk tidak dipermasalahkan, karena blok dan prinsip dasar tatanan massa yang lebih dinilai sebagai parameter sequence taman ini.

Pemenang 2
Team Iwan dan Esther - Performance Park

Statement Juri
Desain taman ini dinilai sangat dinamis dan menarik. Pengolahan pun dilakukan secara menyeluruh tapi tetap proporsional. Walau banyak melakukan perubahan namun kebutuhan fungsi taman tetap diperhatikan. Fungsi concert hall terlebih malah dijadikan fokal point yang menarik ketika dikombinasikan dengan taman gantung, sehingga memiliki hierarki desain yang sesuai.

Plaza-plaza taman di salah satu bibir taman dinilai sangat baik dengan bentuknya yang mengundang publik. Namun sayang pada beberapa batas taman lainnya, desain ini diakhiri dengan tembok-tembok tinggi residu/ konsekuensi dari level taman yang ditinggikan, sehingga pada 3 sisi taman selain sisi plaza, taman ini berwajah tembok-tembok masif yang dapat berdampak buruk pada faktor keamanan pejalan kaki, dan secara umum seolah memberi wajah mati bagi ruang sekitar, sehinga dapat hilang nilai konteks urbannya.

Instrumen taman yang diberikan juga menarik dan unik, dengan olahan desain yang begitu organik dan berbeda di tiap titiknya. Namun hal ini ternyata memiliki pertimbangan yang kurang baik ketika kita berbicara interkoneksi fungsi, karena penzoningan yang berkesan terlalu ekstrim dalam mengkotak-kotakan kegiatan ini ditakutkan tidak dapat memfasilitasi kreativitas pemanfaatan ruang yang akan terjadi, sehingga dinilai kurang fleksibel dan justru menjadi terpecah-pecah. Untuk menanggapi konteks intervensi, seharusnya dipilih ruang-ruang dengan tipikal open plan yang fleksibel, sehingga kemungkinan integrasi kegiatan terbuka lebar. Integrsi ruang yang berasas pada sense ber-publik, saling terlibat, berbagi dan menerima. Tapi sekali lagi olah bentuk taman ini bisa dibilang yang terbaik dinatara karya lain.

Pemenang 3
Team Anissa Santoso dan Rahima Citra - Appreciate The Heterogenity

Statement Juri
Desain ini dirancang clean dan apik, tapi bisa dikatakan cukup ekstrim dalam pengolahan landscape di beberapa titik. sebenarnya karya ini hampir memiliki pola yang sama dengan karya pertama, dengan mempertahankan lapang sepak bola menjadi hijau dan mengaktualisasikan taman lewat penzoningan awal, namun karya ini sayangnya dinilai kurang memiliki fokal point yang kuat. Seharusnya perlu banyak olahan lain yang dirancang berdasar pada pertimbangan skala manusia.

Penaikan lahan sebenarnya menarik dan berani yang memang akan sangat menarik bila terlaksana, namun konsekuensi strukturnya menjadi pertimbangan yang sangat berat untuk sebuah ruang publik. Belum lagi pertimbangnan teknologi disini yang belum memadai, hal ini sulit diakomodasi, dan tentunya memerlukan banyak pertimbangan teknis lainnya.

Team ini berani memasukan fungsi library ke dalam Taman Saparua, dan itu menjadi terobosan yang baru dan kreatif.

kembali berbicara ruang, sebaiknya taman lebih banyak memanjakan ruang terbuka yang fleksibel dan ramah untuk di akses sebagai simpul publiknya. Ruang terbuka yang benar-benar terbuka secara fisik dan aktifitas, ruang terbuka yang fokal, sehingga tidak segemented dan memiliki banyak kemungkinan fungsi untuk saling ber-terintegrasi.

Catatan Panitia
Setiap pemenang berhak mendapatkan hadiah yang akan dikonfirmasi lebih lanjut oleh panitia BYFP dalam waktu dekat.

Semua hasil sayembara ini murni keputusan juri, dan tidak dapat diganggu gugat. Peniliaan juri didapat melalui berbagai aspek penilaian yang komprehensif. penilaian ketiga karya dilakukan secara bersamaan di tempat yang sama, tepatnya pada tanggal 30-08-08, pada area stand Orders Magazine yang terletak di venue Lapangan saparua BYPF.

Terimakasih atas segala apresiasi dan partisipasinya untuk sayembara ini, semoga banyak manfaat yang menginspirasi dari ke-3 karya ini, dan yang terpenting semoga Taman Saparua yang kita miliki ini segera kembali hidup dan menyuarakan lagi gelora-gelora terhebatnya untuk anak muda Kota Bandung.

Akhir kata, atas nama panitia kompetisi desain dan konsep revitalisasi Saparua, kami ucapkan TERIMA KASIH DAN SELAMAT!

* Berita terkait dapat dibaca di halaman Kampus Pikiran Rakyat.

Related posts

Klarifikasi Penghentian Acara Bandung Youth Park Festival 2008

Terimakasih sekaligus maaf buat teman-teman yang telah datang ke acara Bandung Youth Park Festival 2008. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menjadi klarifikasi buat teman-teman yang lain. Pertama-tama saya selaku perwakilan panitia Helar Festival 2008 menyampaikan permohonan maaf setinggi-tingginya kepada semua teman-teman terkait dengan penghentian kegiatan Bandung Youth Park Fest 2008 pada tanggal 30 Agustus 2008 karena situasi di lapangan yang dianggap tidak kondusif.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Helar Festival 2008, keputusan untuk menghentikan kegiatan Bandung Youth Park Festival 2008 terus terang merupakan keputusan yang sangat berat bagi panitia. Saya yang kebetulan terlibat sejak awal sangat mengerti kalau hal ini juga melahirkan kekecewaan diantara teman-teman yang hadir pada saat itu, mengingat sejak acara ini dimulai pertunjukan berjalan lancar dan tidak ada insiden yang berarti selama kegiatan berlangsung.

Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Helar Festival 2008, persiapan dan pelaksanaan kegiatan Bandung Youth Park Festival 2008 dapat dikatakan berjalan lancar di tengah-tengah segala keterbatasan yang dimiliki oleh panitia. Salut kepada para penonton yang telah mendukung acara sehingga kegiatan ini bisa berjalan lancar dan berjalan tanpa insiden walaupun acara harus dihentikan sebelum selesai. Untuk itu sekali lagi saya harus menyampaikan permohonan maaf yang setinggi-tingginya apabila keputusan yang diambil oleh panitia dianggap mengecewakan teman-teman.

Untuk pengembalian tiket yang sudah terlanjur dibeli, panitia Bandung Youthpark Festival 2008 menyatakan kalau tiket yang belum disobek dapat ditukar kembali di Common Room, Jl. Kyai Gede Utama No. 8, sejak tanggal 3 - 7 September 2008, mulai pukul 10.00 s/d 17.00 WIB. Atas pengertiannya saya ucapkan terimakasih.

Salam,
Gustaff H. Iskandar
(Koordinator Program Helar Festival 2008)

Related posts

Pengembalian Uang Tiket BYPF08

Bagi yang memiliki tiket yang belum digunakan/disobek BYPF pengembalian uangnya bisa dilakukan di Common Room, Kyai Gede Utama 8 pada tanggal 3-7 September (jam kerja)

Related posts

Gapura Recycle

August 17, 2008toSeptember 16, 2008

Menyambut hari kemerdekaan Republik Indonesia, Helarfest 2008 juga mengadakan kegiatan Gapura Recycle yang bertujuan menggiatkan seluruh warga Bandung untuk membuat gapura yang kreatif dengan menggunakan barang-barang daur ulang. Lomba yang melibatkan seluruh kecamatan di kota Bandung ini akan memperebutkan hadiah piala Walikota Bandung.

Waktu: Agustus 2008
Tempat: Seluruh Kecamatan di Kota Bandung
Penyelenggara: Studio 42 bekerja sama dengan Pemkot Bandung
Contact Person: Ira (081320127778); ira_4218@yahoo.com, Priadi (085860836328); priaditrie@yahoo.com

Related posts



Proudly powered by WordPress. Site by Ryan Koesuma